PentingnyA BUDIDAYA TANAMAN dan kembali ke desa.
Kita di sini berbicara tentang pergempuran zaman yang semakin mencekik, dan kita perlahan-lahan, sudah banyak melupakan yaitu meninggalkan desa. Sebenarnya, tidak ada yang salah, bila seseorang memutuskan untuk mereka mau pergi ke ke kota demi mencari pencaharian, yang mungkin bisa buat mereka bisa bertahan hidup. Persaingan hidup di era digital pada saat ini, membuat mereka harus mengikuti standar kesuksesan orang lain, yang buat mereka terpaksa harus sukses dan hidup dikota.
Tuntutan hidup tidak main-main yang membuat kita terpaksa meninggalkan desa. Kebanyakan di era digital pada saat sekarang ini, standar hidup manusia dilihat dari perusahaan apa mereka bekerja. Jika tidak bekerja, mereka akan memilih opsi lain, yang penting tinggal dikota, yang membuat mereka bisa sukses, meskipun kuliah mereka tidak berada pada bidang yang sempat diambil pada saat kuliah. Inilah kenyataannya.
Standar hidup seseorang saat ini, minimal tinggal dikota. Entah cukup gajinya per UMR, intinya tinggal disana, demi standar hidup yang saat ini menjadi tidak masuk akal. Hingga akhirnya ada pula yang memilih melacurkan diri, yang ujung-ujungnya adalah penyakit datang.
Pada mulanya, ekonomi yang mencekik, dan harga kebutuhan hiduo yang serba naik, banyak desa-desa, yang pada saat ini menjadi layaknya kota mati. Tak ada aktivitas kehidupan, dan akibatnya banyak bangunan yang terbengkalai. Tidak ada aktivitas misalnya berkebun, bertani, dan mereka enggan melakukan itu, karena alasan gengsi. Petani di era sekarang, dianggap rendah, terutama untuk kaum millenial dan generasi Z.
Diluar negeri, banyak sekali anak muda yang memilih untuk tinggal di kota. Di Jepang, banyak rumah-rumah mewah, sekarang menjadi rumah tinggal, atau istilahnya rumah terbengkalai, meskipun kondisi rumah itu masih bagus. Kebanyakan yang tua-tua saja yang tinggal. Sebenarnya, jika desa ditinggalkan, dampaknya juga lumayan besar. Dari desa, kita bisa menanam banyak jenis tumbuhan yang bisa saja, meningkatkan devisa negara. Inilah yang patut dikhawatirkan. Dan ditakutkan, akan menjadi awal runtuhnya adat-istiadat dan peradaban, karena tak ada aktivitas di desa.
Apa yang menyebabkan kehidupan di desa perlahan-lahan mati?
Jika yang tinggal didesa pasti sudah paham, gejolak apa yang menyebabkan kehidupan didesa saat ini sulit untuk maju. Di negara lain, mungkin sudah ada melakukan langka lebih baik, misalkan menanam gandum, kacang tanah dan jenisnya, demi hidup yang lebih ekonomis, mendatangkan uang juga, dan anggaran dari pemerintah sudah digalakkan semaksimal mungkin. Lalu bagaimana dengan Indonesia.
Saat telah melihat, hal menyebabkan orang-orang meninggalkan desa, karena banyak program yang tak jalan. Apalagi program masalah pemberdayaan pangan. Bahkan ada kepala desa, yang hanya ingin mengembangkan satu aspek, sehingga aspek lain ditinggalkan dan diabaikan. Kebanyakan, kalau orang desa seperti ini, alasannya mereka ingin mengembangkan apa yang mereka suka, sehingga mereka ingin mengembangkannya dibidang itu saja. Padahal itu tidak boleh.
Kepala desa yang baik, pasti dia akan mengembangkan desa, diberbagai aspek demi kemajuan masyarakat dan pemuda agar bisa lebih baik. Ada beberapa bidang yang dikembangkan, mulai dari keagamaan, seni, olahraga, agraris, dan lainnya, jika dana telah turun, pasti akan dilarikan ke sana. Namun faktanya?
Kehidupan didesa perlahan-lahan bisa mati, bukan hanya dari sisi itu saja. Melainkan kebanyakan generasi boomer yang egois, enggan menerima ide yang cemerlang dari pemuda-pemuda yang cerdas, sehingga kalau kita perhatikan, banyak pemuda-pemuda terpaksa bungkam karena malas berhadapan dengan generasi boomer yang egois. Paling anehnya, bila ada orang yang berpendapat, memiliki jabatan tertentu akan diperhatikan. Dan orang miskin yang berpendapat, pasti bakal ada yang berbondong-bondong untuk dihakimi, dan dipandang sinis oleh orang yang bersangkutan. Lucunya, kalau ada orang miskin misalkan yang berpendapat dengan ide yang cemerlang, akan dihentikan semua bantuan yang diberikan kepada desa, terhadap orang tersebut. Sadis gak tuh?
Jangan salah, pada akhirnya, banyak pemuda yang memilih hengkang dari desa, dan juga mereka memilih untuk tidak peduli dengan apa yang terjadi, hingga akhirnya, harapan pemuda yang ada, bisa saja pupus karena ada generasi boomer yang seakan tahu segalanya. Inilah yang dikhawatirkan.
Jika desa di tinggalkan, dampaknya, tak hanya gangguan ekosistem, tapi juga bisa berdampak pada ekonomi. Barang-barang yang dijual didesa, bisa saja dampaknya menurun dalam penjualan, karena sepi pengunjung. Tapi sekarang karena sudah ada online, jadi semuanya bisa dijual. Tak hanya itu saja, tidak adanya distribusi makanan jadinya, yang menyebabkan kelangkaan pangan bisa naik. Bahkan melebihi itu kenaikannya. Dan orang-orang bisa saja kelaparan karena tak ada distribusikan, karena orang-orang banyak lari ke kota.


Komentar
Posting Komentar