Agreeman Over Part 1
Gadis
berkacamata seperti Harry Potter itu sedang menyusuri danau bersama peliharaan
neneknya. Ada ratusan bebek yang ia pandu keluar. Siang Hari, namun terkesan
agak mendung membuat dia agak khawatir dengan peliharaan neneknya ini. Gadis itu
tinggal dengan neneknya. Namanya Windi. Dia sedang cuti selama 6 bulan. Mengisi
waktu senggangnya,didesa dia bertani
memasak bersama sang nenek.
Membawa
ratusan bebek tidaklah mudah. Kadang bebekny tersesat kalau dia lengah dari
barisannya.
“kwek..kwek....”
Bahkan
setiap kali ketika dia lewat disekitar desa, dia sering diejek oleh gadis-gadis
disana. Apalagi dia adalah langganan guyonan kumpulan para kembang desa.
“ih...memang
pantas ya , orang jelek itu kerjaannya ngurusin bebek sama maen Lumpur disawah”
“hahahaha”
Dia
ditertawakan oleh gadis didesannya. Namun dia tidak menghiraukannya sama sekali
ucapan para gadis itu. dia tetap mengurusi bebek itu dengan senang hati.
Mengemasi telur-telurnya. Kemudian dia serahkan kepada neneknya yang sudah Tua
dengan penuh senyuman. Membersihkan rumah neneknya. Memasak dan biasanya kalau habis bekerja dia
minum teh bersama neneknya.
“kamu
lihat apa toh Ndok??”
“di
Jakarta aku gak pernah ngeliat ini nek. Banyak gedung. Bosan nek.”
“yah
begitulah kota. Kiri kanan , banyak gedung. Kamu keluar didepan Kosan kamu juga
Gedung”
“makanya
aku betah namanya Pulang kampung nek. Karena dikampung aku bisa menikmati
pemandangan hijau kaya gini. Segar, gak banyak asap”
“ngomong-ngomong
gimana jaga bebeknya. Senang gak??”
“senanglah
nek. Di Jakarta aku kangen sama bebek-bebek nenek. “
“tapi
apa kamu gak gengsi?? Bawa bebek ke Danau setiap hari??? Disini cewek-ceweknya
alergi bawa yang begituan”
“buat
apa Gengsi. Kalau diejek, yah cuekin ajah. Lagian mereka itu iri sama aku gak
bisa ngelakuin apa-apa nek”
“hush..gak
boleh kaya gitu. Oh Ya nanti malam dirumah ini ada pesta . kamu harus hadir
yah. Sebagai kelancaran bisnis nenek dijakarta”
“aaa
pesta ya nek??”
“ia,..........”
Setiap
kali Neneknya mengadakan pesta. Dengan tujuan untuk memperkenalkan dia kepada
teman-teman sekampung. Selama ini putrinya cucunya sulit mencari teman yang
baik karena cucunya selalu membawa ratusan bebek kemanapun. Dan juga cucunya
sering bertani. Otomatis hadiahnya adalah pesta. Maka dia harus mempersiapkannya
dengan baik. Sebelum pesta dimulai dia pergi kepasar terlebih dahulu. Mencari
gaun yang akan dikenakan saat pesta nanti. Dia tidak pernah menghadiri pesta
manapun. Makanya dia beli dipasar. Dipasar tidak ada yang menjual satupun gaun
yang cocok untuknya.
Akhirnya
dia menyerah. Windi merenung didanau sendirian . dengan menahan kesedihan
dihatinya.
“pesta,pesta,
kenapa harus ada pesta?? Pesta hanya untuk kumpulan gadis yang centil.
Sebenarnya aku tidak suka dengan hal ini. Karena setiap aku ingin ke pesta tidak
ada satupun yang berpihak pada saya. Ketika saya dikampus pasangan dansa saya
tidak mau dengan saya. Sekarang, gaun yang tidak cocok dengan saya. Saya ingin
datang ke Pesta secantik mungkin. Ingin rasanya berpenampilan cantik dalam satu
moment” dia berbicara sendiri. Dia menghidupkan MP3 dihP androidnya. Judulnya
Swan Lake sebuah Simfoni yang dikarang untuk mengiring lagu balet.
“setiap
ada pesta dimanapun saya selalu menikmati musik manis seperti ini. Tapi saya
tidak merasakan kenangan manis didalamnya. Waktu SMA saya diejek Norak. Waktu
Pesta nenek tahun lalu saya diejek jelek buruk rupa. Dan orang bertanya kenapa
cucu nenek jelek . sekarang, apalagi yang ingin dikatakan orang sekampung. Saya
ingin dipandang sempurna dimana orang tidak mengejek saya.”
Windi
kemudian tertidur. Dia tidur ditaman dipinggir danau sebentar. Menahan letih
dihati dan juga dikaki.
Sebuah
cahaya, mirip kunang-kunang datang ketengah danau. Kemudian datang lagi mereka
saling mengelilingi. Ketika mereka mengelilingi datang lagi cahaya yang
menyerupai kunang-kunang itu dari jauh. Windi masik enak tidur ditengah danau.
Kemudian datang mengelilingi. Datang lagi mengelilingi hingga banyak cahaya
yang menyerupai kunang-kunang datang ketengah danau itu. kumpulan cahaya itu
membentu suara percikan air. Membuat Windi terbangung.
“ha??!!’
Windi terbangun. Dia kaget. Kumpulan kunang-kunang banyak sekali ditengah
danau. Windi menatapnya. Mereka mengelilingi danau layaknya menari
disekitarnya. Windi takjub melihatnya. Mereka mengelilingi dan tetap
mengelilingi dengan barisan yang rapi sehinggi membentuk gelombang. Dan
gelombang itu membuat daerah itu menjadi sedikit terguncang. Windi mendekati
danau tersebut. Apa yang terjadi. Pohon-pohong tumbang salah satunya. Menghadap
kearah jalan.
Ketika
kumpulan itu membentuk sebuah gelombang yang amat sempurnya,lalu keluarlah
beberapa macam cahaya. Membesar menyatu
dan terus berputar hingga mata Windi silau dan terpaksa membuka kacamatanya.
Kejadian ini membuat wilayahnya satu persatu pohon tumbang. Cahaya itu
membesar, namun semakin lama semakin mengecil. Windi tetap mendekati danau itu
dan berdiri dipinggir danau karena penasaran.ketika cahaya itu mengecil, dia
membentuk sesuatu . berbentuk Unggas, dan dia besar.setelah membentuk, satu
persatu kumpulan cahaya besar itu pergi. Windi tak beranjak sama sekali . dia
terus menyaksikan kejadian yang mirip dengan kisah fantasi ini. Ternyata , terbentuklah binatang. Berbulu
putih, dan dia mengapung di Air. Bulunya cantik, membuat Windi kagum
melihatnya.
“angsa
???”
Dan
pohon yang tumbang tadi tegak seperti semula. Seekor Angsa dengan bulu putih
yang menggemaskan. Anehnya dia memakai baju.
Membuat Windi terpesona melihatnya.
“sini...sini...”
“Wbek....!!!!”
Windi
tersenyum melihatnya. Dia ingin menggendong Angsa itu. Angsa itu berenang dan
mendekat kepadanya. Angsa itu naik kedaratan dan langsung berada dipelukan
Windi.
“sini-sini...”
Windi
membawanya pulang. Angsa yang cantik. Putih, bersih. Ketika dia membawa angsa
itu pulang, gempa dahsyat terjadi. ‘DUDUDUNGK!!! RARARARAKK’.
Windi
langsung berlari mencari tempat perlindungan. Pohon-pohon satu persatu tumbang.
Ia bersama dengan angsa yang ia gendong, berjalan ke jalan. Dijalan, sekumpulan
warga berlari meninggalkan tempat tinggalnya. Lalu ia teringat dengan neneknya. Cepat-cepat ia bersama seekor angsa yang ia
gendong pergi kerumah neneknya. Ketika ia berlari tanpa sadar ia berada dirumah
neneknya. Windi heran seketika. Padahal jarak dari danau kerumah neneknya
sangatlah jauh. Namun tadi jaraknya begitu dekat. Sampai dirumah, tidak ada
gempa sama sekali. Tidak ada keguncangan yang terjadi dikediamannya.
“Windi???”
“nenek” Neneknya melihat cucunya pulang dalam keadaan
kotor bersama angsa yang ia gendong.
“kamu
kenapa lari lari??”
“anu
nek...tatatadi itu ada gempa nek”
“gempa???
“ heran sang nenek dengan cucunya.
“ia
nek . aku tidur didanau tadi rasa-rasa ada gempa gitu nek”
“hmmm...dan
itu kamu dapat angsa dimana?? Cantik banget”
“ini,
nek aku dapat didanau....”
“sini-sini....
angsanya lucu banget. Kamu mandi gih...nenek kasih makan ini angsa. Biar gendut
yah”
“ia
nek”
Windi
menuruti perintah neneknya. Dia langsung mandi membersihkan sekujur tubuhnya
yang tadi terjatuh akibat kejadian tadi. Saat dia mandi dia heran dengan
kejadian diluar sana. Perasaan tadi ada gempa?
Kenapa disekitar rumah neneknya dia tidak merasakan getaran apa-apa. Dia
melihat kaca kamar mandinya. Merenungi kejadian tadi.
“kenapa
dirumah nenek tidak ada gempa yah?? Perasaan dijalan tadi ada gempa?”
Dia
sungguh tidak habis pikir. Membuat dia garuk
garuk kepala dengan semua ini. Dia melanjutkan mandinya. dia membersihkan
badannya dengan sabun. Kemudian membersihkan wajahnya kemudian dia berkaca.
Saat dia berkaca ada semacam asap hitam dia lihat dikaca. Saat ia melihat
dibelakangnya, tidak ada. Dia lihat sekali lagi dikaca ada, dia lihat
dibelakangnya . tetap juga tidak ada. Ada apa ini?? Dia melihat dikaca proses
gumpalan asap hitam itu dikaca saja. Kemudian, perlahan-lahan dia membentuk
sesuatu. Ada kepala, ada rambut , wajah, kemudian tubuh, proses itu terus
terjadi hingga terjadilah bentuk tubuh yang sempurna. Seorang laki-laki dengan
rahangnya, dan senyumnya, dia memiliki sedikit brewokan diwajahnya. Mata Windi
terbelalak dengan kejadian ini. Dia
melihat dibelakangnya, tidak ada. Namun dicermin, cowok itu berdiri
dibelakangnya didepan cermin . untung dia mandi tidak telanjang sepenuhnya.
Hanya nampak pundaknya maka dengan gampang dia membersihkan tubuhnya lalu
menutupi tubuhnya dengan handuk. Kemudian, Windi keluar dengan cemas. Dia
merebahkan tubuhnya ketempat tidur. Dia mengunci kamar mandinya.
“ini
pasti gue salah lihat. Cowok . masa ada hantu ganteng banget sih. Gue pasti
menghayal. Ha???? Ini karena gue banyak mimpi berharap punya cowok ganteng yah
jadi begini deh jadinya. Aduh kaya pangeran. Pangeran mana mau ngintip cewek
jelek kaya gue. Buat apa coba??” Gadis
berkacamata seperti Harry Potter itu sedang menyusuri danau bersama peliharaan
neneknya. Ada ratusan bebek yang ia pandu keluar. Siang Hari, namun terkesan
agak mendung membuat dia agak khawatir dengan peliharaan neneknya ini. Gadis itu
tinggal dengan neneknya. Namanya Windi. Dia sedang cuti selama 6 bulan. Mengisi
waktu senggangnya,didesa dia bertani
memasak bersama sang nenek.
Membawa
ratusan bebek tidaklah mudah. Kadang bebekny tersesat kalau dia lengah dari
barisannya.
“kwek..kwek....”
Bahkan
setiap kali ketika dia lewat disekitar desa, dia sering diejek oleh gadis-gadis
disana. Apalagi dia adalah langganan guyonan kumpulan para kembang desa.
“ih...memang
pantas ya , orang jelek itu kerjaannya ngurusin bebek sama maen Lumpur disawah”
“hahahaha”
Dia
ditertawakan oleh gadis didesannya. Namun dia tidak menghiraukannya sama sekali
ucapan para gadis itu. dia tetap mengurusi bebek itu dengan senang hati.
Mengemasi telur-telurnya. Kemudian dia serahkan kepada neneknya yang sudah Tua
dengan penuh senyuman. Membersihkan rumah neneknya. Memasak dan biasanya kalau habis bekerja dia
minum teh bersama neneknya.
“kamu
lihat apa toh Ndok??”
“di
Jakarta aku gak pernah ngeliat ini nek. Banyak gedung. Bosan nek.”
“yah
begitulah kota. Kiri kanan , banyak gedung. Kamu keluar didepan Kosan kamu juga
Gedung”
“makanya
aku betah namanya Pulang kampung nek. Karena dikampung aku bisa menikmati
pemandangan hijau kaya gini. Segar, gak banyak asap”
“ngomong-ngomong
gimana jaga bebeknya. Senang gak??”
“senanglah
nek. Di Jakarta aku kangen sama bebek-bebek nenek. “
“tapi
apa kamu gak gengsi?? Bawa bebek ke Danau setiap hari??? Disini cewek-ceweknya
alergi bawa yang begituan”
“buat
apa Gengsi. Kalau diejek, yah cuekin ajah. Lagian mereka itu iri sama aku gak
bisa ngelakuin apa-apa nek”
“hush..gak
boleh kaya gitu. Oh Ya nanti malam dirumah ini ada pesta . kamu harus hadir
yah. Sebagai kelancaran bisnis nenek dijakarta”
“aaa
pesta ya nek??”
“ia,..........”
Setiap
kali Neneknya mengadakan pesta. Dengan tujuan untuk memperkenalkan dia kepada
teman-teman sekampung. Selama ini putrinya cucunya sulit mencari teman yang
baik karena cucunya selalu membawa ratusan bebek kemanapun. Dan juga cucunya
sering bertani. Otomatis hadiahnya adalah pesta. Maka dia harus mempersiapkannya
dengan baik. Sebelum pesta dimulai dia pergi kepasar terlebih dahulu. Mencari
gaun yang akan dikenakan saat pesta nanti. Dia tidak pernah menghadiri pesta
manapun. Makanya dia beli dipasar. Dipasar tidak ada yang menjual satupun gaun
yang cocok untuknya.
Akhirnya
dia menyerah. Windi merenung didanau sendirian . dengan menahan kesedihan
dihatinya.
“pesta,pesta,
kenapa harus ada pesta?? Pesta hanya untuk kumpulan gadis yang centil.
Sebenarnya aku tidak suka dengan hal ini. Karena setiap aku ingin ke pesta tidak
ada satupun yang berpihak pada saya. Ketika saya dikampus pasangan dansa saya
tidak mau dengan saya. Sekarang, gaun yang tidak cocok dengan saya. Saya ingin
datang ke Pesta secantik mungkin. Ingin rasanya berpenampilan cantik dalam satu
moment” dia berbicara sendiri. Dia menghidupkan MP3 dihP androidnya. Judulnya
Swan Lake sebuah Simfoni yang dikarang untuk mengiring lagu balet.
“setiap
ada pesta dimanapun saya selalu menikmati musik manis seperti ini. Tapi saya
tidak merasakan kenangan manis didalamnya. Waktu SMA saya diejek Norak. Waktu
Pesta nenek tahun lalu saya diejek jelek buruk rupa. Dan orang bertanya kenapa
cucu nenek jelek . sekarang, apalagi yang ingin dikatakan orang sekampung. Saya
ingin dipandang sempurna dimana orang tidak mengejek saya.”
Windi
kemudian tertidur. Dia tidur ditaman dipinggir danau sebentar. Menahan letih
dihati dan juga dikaki.
Sebuah
cahaya, mirip kunang-kunang datang ketengah danau. Kemudian datang lagi mereka
saling mengelilingi. Ketika mereka mengelilingi datang lagi cahaya yang
menyerupai kunang-kunang itu dari jauh. Windi masik enak tidur ditengah danau.
Kemudian datang mengelilingi. Datang lagi mengelilingi hingga banyak cahaya
yang menyerupai kunang-kunang datang ketengah danau itu. kumpulan cahaya itu
membentu suara percikan air. Membuat Windi terbangung.
“ha??!!’
Windi terbangun. Dia kaget. Kumpulan kunang-kunang banyak sekali ditengah
danau. Windi menatapnya. Mereka mengelilingi danau layaknya menari
disekitarnya. Windi takjub melihatnya. Mereka mengelilingi dan tetap
mengelilingi dengan barisan yang rapi sehinggi membentuk gelombang. Dan
gelombang itu membuat daerah itu menjadi sedikit terguncang. Windi mendekati
danau tersebut. Apa yang terjadi. Pohon-pohong tumbang salah satunya. Menghadap
kearah jalan.
Ketika
kumpulan itu membentuk sebuah gelombang yang amat sempurnya,lalu keluarlah
beberapa macam cahaya. Membesar menyatu
dan terus berputar hingga mata Windi silau dan terpaksa membuka kacamatanya.
Kejadian ini membuat wilayahnya satu persatu pohon tumbang. Cahaya itu
membesar, namun semakin lama semakin mengecil. Windi tetap mendekati danau itu
dan berdiri dipinggir danau karena penasaran.ketika cahaya itu mengecil, dia
membentuk sesuatu . berbentuk Unggas, dan dia besar.setelah membentuk, satu
persatu kumpulan cahaya besar itu pergi. Windi tak beranjak sama sekali . dia
terus menyaksikan kejadian yang mirip dengan kisah fantasi ini. Ternyata , terbentuklah binatang. Berbulu
putih, dan dia mengapung di Air. Bulunya cantik, membuat Windi kagum
melihatnya.
“angsa
???”
Dan
pohon yang tumbang tadi tegak seperti semula. Seekor Angsa dengan bulu putih
yang menggemaskan. Anehnya dia memakai baju.
Membuat Windi terpesona melihatnya.
“sini...sini...”
“Wbek....!!!!”
Windi
tersenyum melihatnya. Dia ingin menggendong Angsa itu. Angsa itu berenang dan
mendekat kepadanya. Angsa itu naik kedaratan dan langsung berada dipelukan
Windi.
“sini-sini...”
Windi
membawanya pulang. Angsa yang cantik. Putih, bersih. Ketika dia membawa angsa
itu pulang, gempa dahsyat terjadi. ‘DUDUDUNGK!!! RARARARAKK’.
Windi
langsung berlari mencari tempat perlindungan. Pohon-pohon satu persatu tumbang.
Ia bersama dengan angsa yang ia gendong, berjalan ke jalan. Dijalan, sekumpulan
warga berlari meninggalkan tempat tinggalnya. Lalu ia teringat dengan neneknya. Cepat-cepat ia bersama seekor angsa yang ia
gendong pergi kerumah neneknya. Ketika ia berlari tanpa sadar ia berada dirumah
neneknya. Windi heran seketika. Padahal jarak dari danau kerumah neneknya
sangatlah jauh. Namun tadi jaraknya begitu dekat. Sampai dirumah, tidak ada
gempa sama sekali. Tidak ada keguncangan yang terjadi dikediamannya.
“Windi???”
“nenek” Neneknya melihat cucunya pulang dalam keadaan
kotor bersama angsa yang ia gendong.
“kamu
kenapa lari lari??”
“anu
nek...tatatadi itu ada gempa nek”
“gempa???
“ heran sang nenek dengan cucunya.
“ia
nek . aku tidur didanau tadi rasa-rasa ada gempa gitu nek”
“hmmm...dan
itu kamu dapat angsa dimana?? Cantik banget”
“ini,
nek aku dapat didanau....”
“sini-sini....
angsanya lucu banget. Kamu mandi gih...nenek kasih makan ini angsa. Biar gendut
yah”
“ia
nek”
Windi
menuruti perintah neneknya. Dia langsung mandi membersihkan sekujur tubuhnya
yang tadi terjatuh akibat kejadian tadi. Saat dia mandi dia heran dengan
kejadian diluar sana. Perasaan tadi ada gempa?
Kenapa disekitar rumah neneknya dia tidak merasakan getaran apa-apa. Dia
melihat kaca kamar mandinya. Merenungi kejadian tadi.
“kenapa
dirumah nenek tidak ada gempa yah?? Perasaan dijalan tadi ada gempa?”
Dia
sungguh tidak habis pikir. Membuat dia garuk
garuk kepala dengan semua ini. Dia melanjutkan mandinya. dia membersihkan
badannya dengan sabun. Kemudian membersihkan wajahnya kemudian dia berkaca.
Saat dia berkaca ada semacam asap hitam dia lihat dikaca. Saat ia melihat
dibelakangnya, tidak ada. Dia lihat sekali lagi dikaca ada, dia lihat
dibelakangnya . tetap juga tidak ada. Ada apa ini?? Dia melihat dikaca proses
gumpalan asap hitam itu dikaca saja. Kemudian, perlahan-lahan dia membentuk
sesuatu. Ada kepala, ada rambut , wajah, kemudian tubuh, proses itu terus
terjadi hingga terjadilah bentuk tubuh yang sempurna. Seorang laki-laki dengan
rahangnya, dan senyumnya, dia memiliki sedikit brewokan diwajahnya. Mata Windi
terbelalak dengan kejadian ini. Dia
melihat dibelakangnya, tidak ada. Namun dicermin, cowok itu berdiri
dibelakangnya didepan cermin . untung dia mandi tidak telanjang sepenuhnya.
Hanya nampak pundaknya maka dengan gampang dia membersihkan tubuhnya lalu
menutupi tubuhnya dengan handuk. Kemudian, Windi keluar dengan cemas. Dia
merebahkan tubuhnya ketempat tidur. Dia mengunci kamar mandinya.
“ini
pasti gue salah lihat. Cowok . masa ada hantu ganteng banget sih. Gue pasti
menghayal. Ha???? Ini karena gue banyak mimpi berharap punya cowok ganteng yah
jadi begini deh jadinya. Aduh kaya pangeran. Pangeran mana mau ngintip cewek
jelek kaya gue. Buat apa coba??”
Dia
langsung memakai pakaiannya. Setelah itu kekandang bebek memberi bebek-bebek
peliharaan neneknya makan. Mengumpulkan telur-telurnya. Lalu dia berikan kepada
neneknya untuk dibuat telur asin oleh nenek.
“Windi??”
“ya
nek??”
“jangan
lupa, angsa yang kamu temui didanau juga jangan lupa dikasih makan”
“ia
nek”
Dia
memberi makan angsa. Namun dia tidak tau apa makanan favorite angsa. Jadi dia
mengambil seadanya. Dia hanya mengambil lima buah apel, dan sekeranjang anggur
yang ia petik dari kebun. Ketika dia menghampiri angsa itu, dia mengeluarkan
cahaya dari bulunya. Dia begitu cantik.
Angsa yang bersih, tanpa meninggalkan noda sedikitpun . membuat Windi tambah
gemas melihatnya. Leher yang panjang. Oh binatang yang penuh kasih yang selalu
terpampang dikartu undangan pernikahan.
“Webek..Webek..Webek
!!!!”
“hey,
lo ko cakep banget sih. Ini makan. “ dia menyodorkan anggur yang ia petik
bersama dengan 5 buah apel tadi. Windi membelai-belai bulunya dengan penuh
kasih.
“oh
Ya lo jantan atau betina?? Kalau ia ?? lo bunyi ya??. Lo Betina??”
Angsa
itu diam saja. Windi menanya sekali lagi.
“lo
Jantan??”
Angsa
itu mengepakkan sayapnya” Webek..Webek...Webek !!!!” Windi tersenyum. Dia
heran, mengapa angsa itu bisa mengerti dengan instruksinya. Namun ia sangat
tersenyum. Baru pertama kali dia punya binatang yang pintar.
“lo
Jantan Uhm....gue kasih lo nama yah. Uhmm.....kalau setuju lo kaya tadi ya??
Gimana kalau George. George ??”
Angsa
itu tidak berbunyi. Lalu dia mencari nama lain
“Potter??”
dia diam juga. Windi bingung nama apa yang bagus untuk angsa peliharaannya itu.
“Ebiet???”
“webek...Webek..Webek!!!”
dia mengepakkan sayapnya dengan indah dan langsung mendekat Windi. Windi tambah
gemas melihatnya.
“Ebiet”
Dia
memberi nama Angsa itu Ebiet. Dia memelihara angsa itu dengan baik. Windi
membawanya kehadapan neneknya. Neneknya
menatap cucunya dengan yang membawa seekor angsa yang bernama Ebiet itu.
neneknya ingin memeluk Angsa yang baginya berbulu sangat cantik. Lebih cantik
dari biasanya.
“dia
ini jantan betina???”
“jantan
nek”
“oh...namanya
siapa??”
“Ebiet
“
“Ebiet??”
Neneknya
tercengang setengah mati. Nama yang tak asing ditelinganya. Ebiet. Mengingatkan
dia akan kejadian suatu hal. Dimana ada seorang pemuda yang dulu pernah dia
ajar. Pemuda itu diajar bagaimana cara mengelola lahan pertanian. Ebiet Da
Roman. Murid yang ia sayang, yang ia anggap cucu sendiri. Merupakan pemuda yang
paling kaya yang membuat sanak saudaranya iri kepadanya. Hingga karena harta warisan itu ia dikabarkan
meninggal karena terbunuh oleh pamannya sendiri Oniew. Ia tidak percaya dengan
berita yang dia dapat. Pemuda yang baik hati, pintar, santun, Tampan, yang
rencananya ia perkenalkan kepada cucunnya terpaksa harus pergi selamanya. Sampai
sekarang ia masih tak percaya bahwa Ebiet Da Roman , hingga berulang kali
mencari Ebiet Da Roman yang konon dikabarkan meninggal didanau tempat cucunya
sering berehat disana.
Sang
Nenek tiba-tiba menangis ketika cucunya memberi nama ‘Ebiet’ .
“nenek
kenapa??”
“ha??
Gak ada.” Neneknya menghapus air mata sambil mengelus angsa putih yang cantik
itu.
Malam
harinya:
Sang
Nenek ingin mengadakan pesta . namun dibatalkan karena nenek mendapatkan berita
bahwa orang diluar sana sedang
mendapatkan musibah. Gempa kecil yang menghancurkan sebagian rumah warga. Nenek
keluar memberi mereka bantuan berupa buah yang ada dikebunnya yang merupakan
kebun pemberian Ebiet Da Roman sewaktu dia masih ada. Windi ikut serta membantu
warga disana sambil membawa angsa yang cantik itu kedalam mobilnya. Saat dia
memberikan sumbangan, tiba-tiba datanglah Trio Kipas. Yang terdiri dari 3
perempuan cantik. Dia mendekati Windi dengan tampang seolah-olah mencemooh dirinya.
“huy....Tadi
sore ntah tadi siang yah... ada cewek cari gaun “
“iye,
gaun untuk pesta. Tapi pestanya gak jadi
yah. Hah syukurlah. Cewek jelek buat apa datang ke Pesta ? ngerusak pemandangan
aja”
“Lo
tau gak Windi. Dipesta itu biasanya dipenuhi oleh cowok-cowok ganteng, dan
cewek-cewek cantik kaya kita. Kalau orang kaya lo mah mana pantas. Jelek kaya
begini. Udah jelek sok cashual lagi”
“kalau
gue jelek, emangnya kenapa?? Masalah buatlo ???”
“nggak...nggak
masalah. Hanya saja lo harus paham apa itu Party yang sebenarnya. Disana ,
banyak makhluk-makhluk indah . “
“yah
gue tau....tapi gak seindah hatinya. Lo semua memang cantik. Tapi lo punya sisi
yang amat rusak yang mungkin tidak bisa diubah lagi. Sesuatu yang amat
menyedihkan seumur hidup lo”
“maksud
lo???”
“yah
cantik, buat apa kan??kalau cashingnya doang” Windi tersenyum . membuat Trio
Kipas tidak bisa berkata apa-apa. Setelah membantu orang-orang sekitar. Windi
dan neneknya pulang. Dengan mobil yang
dikendarainya. Lalu sampai dirumah neneknya heran sekali mengapa hanya
dirumahnya saja yang tidak kena.
“kenapa
yah Windi??”
“nggak
tau nek”
“Kwek—Kwak--Kwak”
angsa itu datang kepadanya. Windi langsung memeluk angsanya itu.
“Ebiet....mau
tidur, “
“ya
udah gih, bawa Ebit tidur dikamar kamu yah. Mungkin dia gak mau tidur dikandang
bebek.
“ah
ia nek...”
Windi
menuruti perintah neneknya dengan senang hati. Dia bawa angsa itu kedalam
kamar. Didalam kamar ia elus-elus bebek yang baru saja ia temui didanau. Dia
melihat bulan lewat jendela yang terbuka.
“Ebiet,
Lo gak apa yang membuat gue menderita??? Pertama setiap nenek ngadain pesta gue
selalu diejek sama trio kipas. Kalau gue jelek, apalah, Harry Potterlah. Harry
Potter cowok wajahnya rada-rada Girlylah. Bisa dikatakan cantik juga sebagai
cowok. Nah, gue??? Apanya yang cantik??
Terus gue menderita juga. Karena setiap
cowok yang gue suka selalu pergi dari hadapan karena gengsi. Kapan yah gue bisa
punya pasangan. Yah kalau bisa orang-orang kaya gue 1 untuk selamanyalah”. Dia lalu tidur. Sebelum tidur, dia
menghidupkan simfoni ‘Swan Lake ‘ karangan TRICOVSKY . musik indah karangan
orang Rusia. Dia tidur karena capek.
Saat Windi tertidur , angsa yang bernama Ebiet itu kembali bersinar. Dia
kembali dalam wujudnya semula. Benar-benar wujud aslinya sebelum dia menjadi
Angsa danau. Windi yang tidur dengan pulas tidak tau bahwa Angsa yang dia
pelihara adalah Ebiet Da Roman yang sampai sekarang populer dikalangan para
gadis. Dia memakai Jacket berbulu angsa,rambutnya putih. Dia menatap Windi
dengan penuh senyuman. Kemudian dia tidur.
Esok
pagi dia kembali melanjutkan aktifitasnya . melaksanakan tugas-tugas perempuan,
masak, membersihkan rumah, lalu membawa bebeknya jalan-jalan . tidak lupa angsa
yang cantik itu. mengelilingi desa dengan sepenuh hati. Semua orang banyak
memujinya karena dia cewek rajin. Kecuali Trio Kipas yang sekarang menggandeng
pasangannya. Windi kesal dengan mereka. Mengapa mereka tidak hancur bersama
tumpukan gempa saja sekalian.
“Hallo
Windi??”
“Hmmm”
“beb,
masih ada cewek yang kaya gini beb yang main ama bebek. Untung aja aku sama
kamu ya beb. Bersih putih, cantik”
“makasih
ya sayang”
“lo
semua norak banget sih??? Kaya gak pernah pacaran aja”
“lo
sendiri, emangnya
pernah pacaran??”


Komentar
Posting Komentar