Sejak pergantian atasan, dari Bob Eigher ke Bob Chapek, omset Disney semakin menurun. PHK besar-besaran, Blackwashing terselubung, serta adanya agenda-agenda aneh, yang seharusnya tidak bisa diterima oleh anak-anak. Berdasarkan sumber yang gue dapat, bahwa disney mengalami kemunduran dari berbagai sektor. Adaptasi Life action yang buruk, kemudian dimasukannya agenda Legabita dalam animasinya( mungkin mereka meniru Jepang, ingin membuat animasi bergenre YAOI) namun, tidak tepat lantaran, mereka seperti melanggar prinsip bahwa mereka diciptakan sebagai lingkungan yang ramah terhadap anak-anak.
Mulai cerita dongeng yang di-remake sedemikian rupa, agar anak-anak bisa menerimanya dengan baik. Ada pembelajaran disana. Tapi sekarang, beberapa karakter dipasangkan dengan sesama jenis, dengan alasan fanservice. Hah, kalau memang fanservice itu rasanya tidak tepat. Tidak ada inovasi terbaru dalam cerita.
Hal ini juga berdampak pada taman bermain, hingga pengeluaran
sumber: Wikipedia.com
Disney mundurnya tidak main-main. Hingga akhirnya, mala animasi produksi lain yang makin lama tidak melenceng dan tidak memasukan unsur agenda-agenda aneh. Gue mulai kecewa berat, saat film favorite gue, Big hero 6 semula tentang 6 sekawan, membantai seorang professor karena sang professor, menyalahgunakan penemuan Hero terhadap Microbots, malah jadi aneh. Si robotnya, Baymax malah comblangin cowok-sama-cowok. Ini bikin gue semakin shock.
sumber:https://www-out-com.translate.goog/television/2022/6/30/baymax-episode-cutest-gayest-thing-weve-seen-bit?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=imgs
Big Hero, gue ternodai sama karakter ini. Dan mereka menyatakan haknya akan kebebasan. Kebebasan apa? Ini mah SJW menurut gue. Apalagi diselipkan ke kartun yang ramah terhadap anak-anak. Anggap saja, mereka meniru Jepang yang ceritanya itu ada pasangan kaum 7 warna, dalam setiap cerita animenya. Tapi kartun Jepang itu ada pasar masing-masingnya. Tidak semua genre anime itu bergenre kodomo. Nah, apakah animasi Disney itu kodomo. Rata-rata ia, memang untuk keluarga. Gue sama teman gue, diskusi tentang hal ini kaya. Wah kacau. Ini sebuah kehancuran, sejak Bob Chapek memimpin.
Dan banyak agenda aneh yang diselipkan di Disney. Selain itu karakter yang seharusnya berkulit putih, berubah menjadi kulit hitam, dan inilah yang membuat saya semakin agak.
Netflix, ketika dragon ball gagal mereka mengubah formasi sesuatu hal bagaimana cara tidak mengecewakan penonton. Baru-baru ini KPOP DEMON HUNTERS, naik dikalangan anak muda. Bahkan ceritanya sangat sederhana, tapi masih bisa diterima oleh semua kalangan. Mulai remaja, sampai dengan orang yang mungkin sudah berkepala tiga.
Puncak kontroversialnya, saat versi life action Ariel the little mermaid, diubah kulitnya menjadi warna hitam, dengan alasan menaikan kesetaraan warna kulit. bayangkan kalau kulit dari seorang princess itu hitam. Padahal karakternya putih. Jadi ini secara tidak langsung mengajak orang bertindak rasis terhadap kulit hitam juga. Jadi agak sedikit bagaimana gitu.
Belum lagi, agenda LGBT mulai naik dikalangan kartun, khususnya untuk anak-anak. Padahal Disney diperuntukkan untuk anak-anak, beda dengan anime Jepang, yang pembagian genre-nya terdiri dari beberapa kelompok. Ada yang action- SHoujo-Shoujo Ai- Bara, Josei dan sejenisnya, meskipun ada yang jijik dengan cerita yang berbau BL dan juga GL, tapi anime memiliki pasarnya ada, tidak seperti Disney, yang sejak awal memang diperuntukkan anak-anak.
Rapunzel yang awalnya ceritanya sangat mengerikan, dimana karakter prianya naik ke rambutnya Rapunzel buat yahhh begini dan begitu, dibagusin ceritanya menjadi cowok yang berusaha buat menyelamatkan Rapunzel itu sendiri, dari tahanan ibunya. versi Barbie dari Rapunzel ini ada, namun versi Disneym jauh lebih fresh ceritanya, dan cowoknya ganteng.
Cinderella yang saudaranya harus memotong kakinya menjadi putri, agar kakinya pas. Sekarang, semuanya berubah menjadi agenda orang dewasa, dengan Alasan fan service. What???
Mungkin mereka mencoba untuk meniru jejak anime Jepang, yang berusaha memberikan kesan manis kepada setiap karakternya, tapi Disney, kurang tepat saja begitu.
Semoga kedepannnya Disney, bisa kembali kepada visi awal mereka.
Komentar
Posting Komentar