Narsistik dalam Islam.
Pernah tidak, anda bertemu dengan seseorang yang merasa bahwa dirinya paling baik dibandingkan dengan orang lain? Atau pernah tidak orang yang anda temui memiliki empati yang kurang, bicara seenaknya tanpa memperdulikan perasaan orang lain. Gila pujian, pengen jadi sorotan orang, bahwasannya dia adalah orang yang paling penting dan superior. Orang seperti ini adalah manusia yang dikatagorikan sebagai manusia, yang memiliki kejahatan sosial, yang tidak bisa maafkan, dan menjadi bahan gunjingan. Sehingga orang seperti ini, sulit menerima masukan kritikan, masukan dari orang lain. Contoh misalnya, ada orang yang memiliki ide yang lebih baik dari dia, dalam sebuah organisasi untuk memecahkan sebuah masalah. Namun dia menganggap ide dari orang tersebut, jauh lebih buruk dari dirinya. Padahal ide yang dia buat berdasarkan, sudut pandang orang lain dapat membahagiakan individu lainnya.
Misalnya seperti ini:
Antara Dian dan Dellon. Dua-duanya adalah laki-laki. Mereka mengajar disebuah sekolah yang sama. Nah, kepala sekolah meminta mereka berdua dalam menyelesaikan masalah, bagaimana caranya supaya anak murid, mendapatkan hukuman yang jera agar tidak terlambat. Dian memilih untuk menyuruh anak-anak push-up atau jalan jongkok, dari ujung lapangan-ke-ujung lapangan. Bagi Dellon itu tidak bagus. Lebih mereka dipukul dengan menggunakan rotan, pada bagian kaki atau penggaris besi, agar mereka disiplin. Namun, kepala sekolah dan Dian meminta Dellon mempertimbangkan saran tersebut, karena anak zaman sekarang jauh lebih kritis, dibanding dengan zaman dulu. Mereka berdua takut kalau Dellon akan terkena sanksi hukuman dari pihak yang berwajib. Maka kepala sekolah memilih hukuman dari Dian, karena mempertimbangkan, kalau seandainya kepala sekolah memakai hukuman dari Dellon, maka nama sekolah akan menjadi buruk. Secara resmi hukuman Dian yang dipakai
Dellon kesal, karena hukuman Dian terkesan seperti memanjakan murid. Padahal kalau jalan jongkok jauh lebih penat, dan juga menyehatkan badan. Sementara Dellon tak terima dengan hal itu. Dia merasa bahwa hukumannya yang dilontarkan Dian, jauh lebih buruk dan dia lebih baik. Biasanya, tipe-tipe orang seperti ini, mulai membawa pasukan dengan mencuci otak. Bahkan, kalau bertutur kata, asal keluar saja, dan merasa paling hebat sejagat raya.
Didunia nyata, kalau ada orang seperti ini jangan pernah tersulut emosi. Lawan saja dengan logika dan tetapkan teguh pendirian bahwasannya kalian itu tidak mudah diinjak atau dikendalikan. Orang-orang seperti ini biasanya cenderung menjadi orang sok penting. Tapi kalau digali masalah mereka, mereka bakal lari dan tidak mau disalahkan. Lucu bukan.
Mari kita kenal perilaku narsistik.
1. Pengertian perilaku Narsistik
Menurut Dewi Purnama Sari dalam jurnal Bimbingan konseling Islam (2021:98) Dijelaskan bahwa, karakteristik orang yang narsistik diantaranya sebagai berikut:
⦁ Gila pujian
⦁ Merasa paling penting
⦁ Suka mengkritik, tapi enggan dikritik
⦁ Suka melebih-lebihkan kemampuan pribadi
⦁ Gila pujian atau gila hormat.
Perilaku seperti ini kalau dia berada didalam lingkungan masyarakat, orang bakal diam atau tidak berbicara apapun. Jika seorang individu bertemu dengan Individu lainnya yang berperilaku seperti ini, mereka akan cenderung bungkam, kalau terlalu dekat, mereka akan merasa lelah menghadapi orang seperti ini. Namun disisi lain, masyarakat akan mengucilkannya, meskipun orang tersebut masih berada dalam lingkungan suatu kelompok, masyarakat mendengar apa yang dia lontarkan, namun mereka akan memblacklist orang seperti ini secara diam-diam. Jika mereka bertemu dengan orang yang berani mengkritisi si narsistik ini, mereka akan cenderung mendapatkan perlindungan, namun si narsistik, posisinya akan terancam. Karena eksistensinya mulai terganggu.
Selain itu mereka sombong dan arogan yang membuat mereka kalau bertemu dengan si narsistik, mereka akan mengumpat-ngumpat dibelakang si penderita narsistik. Serta mereka sulit mengerti orang lain dan tidak peduli dengan apa yang orang lain lakukan, alias mereka hanya mementingkan dunia mereka, meminta orang lain untuk pengertian terhadap apa yang orang lain lakukan, sehingga muncul sisi parasitisme, yang satu untung, yang satu rugi alias egois.
Makanya orang narsistik ini, cenderung tidak memiliki empati. Malah yang paling kocaknya mereka terlalu overproud sama diri mereka sendiri. Ingat kata Fajar Sad Boy: Jangan pernah meremehkan orang lain. Ingat, diatas ketoprak masih ada kerupuk.
Orang-orang seperti ini juga kalau berteman demi keuntungan mereka juga. Alias friends for benefit. Kelakuannya seperti orang-orang kapitalis begitu. Nampak minyak dinegara oranf” Yuk temenan yuk”
2. Adam dan Hawa menghadapi iblis yang narsistik.
Ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa. Allah menyuruh iblis sujud kepada Adam. Malaikat dan Iblis disuruh sujud. Namun iblis menentang, karena dia merasa kalau dia diciptakan dari api. Allah murka, kemudian Allah usir dia dari surga dengan rupa yang sejelek-jeleknya. Dan dari sini iblis bersumpah, kalau dia akan menggoda anak Adam sampai kiamat tiba, buat menghuni neraka. Kita bisa menjumpai kisah-kisah ini dibeberapa ayat Al-Qur'an diantaranya adalah Surah Al-Baqarah ayat 30-39. Dalam ayat ke 30, sebenarnya malaikat ini sepertinya khawatir dengan penciptaan manusia pertama kali. Menurut tafsir ibnu katsir dengan meriwayatkan beberapa ulama didalamnya, bahwasannya malaikat itu, khawatir dengan penciptaan manusia yang akan menjadi khalifah dimuka bumi. Ketakutan itu, menurut tafsir para ulama, bahwasannya sebelum manusia yang turun ke bumi, bumi ini dihuni oleh para jin. Kemudian ayat 31 sampai 33 Nabi Adam diperkenalkan segalanya. Mulai dari nama-nama benda, semesta lainnya bahkan nama angin yang keluar dari dubur sekalipun semuanya diperkenalkan. Menurut tafsir para ulama dari kitab ibnu katsir, bahwasannya Nabi Adam dibekali pengetahuan tentang semesta.
Dan di ayat 34, ini yang paling menjengkelkan. Seperti yang tulis di paragraft pertama.
{وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (34) }
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kalian kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur, dan adalah dia termasuk golongan orang-orang yang kafir
Beberapa ulama menjelaskan maksud dari ayat ini. Dari catatan ibnu katsir, Ibnu Jarir, kemudian Abu Kuraib, Bisyr Ibnu, Abu Rauq dari Ibnu, Abu Dahak dan Ibnu Abbas menjelaskan ayat ini. Semula, Iblis ini sama seperti dengan malaikat. Dia itu rajin ibadah, patuh sama perintah Allah, bahkan dia dimasukan dalam katagori salah satu malaikat. Ada yang bilang dalam tafsirnya, iblis ini memiliki rupa yang tampan dan rupawan.Namun ketika disuruh sujud kepada Nabi Adam, maka Allah murka. Nah di disini sikapnya iblis, mulai membangkang. Saya mengambil dari salah satu surah, yang membahasa akan hal ini.
⦁ Klasifikasi Narsisme
Menurut salah satu sumber bahwa Narsisme ini terbagi menjadi dua.
⦁ Positive: berupa mencintai diri sendiri, percaya diri, dan yakin dengan ide-ide kreatifnya sendiri, yakin akan kemampuan dirinya sendiri
⦁ Negative: Terlalu membangga-banggakan dirinya sendiri. Terlalu memuji diri sendiri.
Ciri-ciri orang yang narsistik ini adalah terlalu membanggakan apa yang dia punya. Misalnya anaknya, istrinya apapun pencapaian yang dia dapat, tujuannya untuk menjatuhkan mental orang-orang agar orang itu iri sama dia.Mungkin sebenarnya tujuannya di awal, kita menganggap bahwa orang yang narsistik ini ingin memberikan motivasi. Namun kebanggaan terhadap dirinya selalu terjadi karena berulang-ulang.
Yang kedua memiliki empati yang kurang serta mendominasi bahkan memanipulasi hubungan dia dengan orang-orang sekitar, dengan cara menarik emosionalnya.
Dia itu menyembunyikan rasa irinya terhadap orang lain, tapi dia ingin orang lain itu iri kepadanya. Dia berfantasi akan kesuksesan, cinta sejati dan yang paling parah ada yang merasa sok tahu dengan masa depan orang lain., karena gak sepaham dengan mereka. Saya pernah bertemu dengan orang yang seperti ini. Bahkan saya awalnya marah, namun bila diingat saya cukup tertawa juga.
Mudah menginjak harga diri orang lain, yang menyebabkan dia kurang empati. Sebenarnya, ini akibat dari kurang empatinya. Orang yang punya empati terhadap orang lain, maka dia akan mengerti dengan apa yang dirasakan oleh orang lain tersebut. Bahkan mengerti bagaimana perjalanan emosional dari individu yang lain. Kalau narsistik, mereka lebih cenderung kepada perasaan mereka. Mereka ingin didengarkan, tapi mereka tidak mau mendengarkan orang lain.
Angkuh terhadap kritikan. Merasa paling benar, merasa paling hebat, padahal gak sama sekali. Kalau kalian bertemu dengan orang yang dizholimi sama orang yang narsistik, pasti mereka akan membicarakan si narsis ini dari belakang. Nah, yang paling berbahaya, kalau mereka salah, mereka akan menjudge orang, jangankan peduli terhadap orang lain. Aslinya mereka tidak peduli juga terhadap diri mereka sendiri karena menganggap, sesuatu hal yang dianggap nasehat, malah jadi ancaman.
Ini nih, paling contrasnya saya beri clue-nya:
Dia akan menjatuhkan prinsip orang lain dengan membenarkan prinsipnya yang salah, kemudian dia memainkan perannya untuk menguasai anda. Jangan panik, kenali polanya. Jika anda tidak sanggup dengan kelakuan mereka, maka sebaiknya kalian hadapi dengan orang seperti ini dengan logika kalian. Kalau kalian tidak mengandalkan logika kalian takutnya dia akan memanipulasi kalian, ini yang parah.


Komentar
Posting Komentar