A LITTLE PIECE OF HEAVEN PART 7
Our love had been so strong for far to long. I was weak with fear that somethink would go wrong :
18+
Dua orang sejoli terperangkap cinta buta, buta sebenar-benar buta. Saking butanya, jenis kelaminpun tak nampak. Yang penting hati mereka sangat cocok untuk menyatukan rasa. Cinta adalah kekuatan yang mampu mengubah duri menjadi mawar, mengubah cuka menjadi anggur. Egi adalah anggur bagi Kevin yang dulunya adalah seorang teman biasa. Selesai mereka melakukan 'itu', mereka bergelayut mesra dalam sebuah ranjang berukuran sedang disebuah kantor organisasi. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Mereka, 2 orang laki-laki ini saling memuaskan satu sama lain. Padahal cinta yang mereka bina adalah yang tak pernah Tuhan rencanakan. Tuhan tak pernah merencanakan cinta yang seperti ini. Kalau ia Tuhan rencanakan, kenapa Adam harus turun bersama Hawa? Tuhan menempatkan sesuatu pada proporsi yang sesuai dan sempurna, makanya Adam berpasangan dengan Hawa. Bukan Adam dan Mustafa! Namun, mereka yang terlibat cinta gila hilang akal menentang itu semua. Seolah-olah Tuhan tak boleh ikut campur masalah percintaan manusia. Contoh dua insan ini. Tunggu dua insan? Dua Insan? Mereka berdua termakan kata-kata dalam artian 'terbuka'. Sehingga hukum Tuhan dia tantang didalam sebuah ruangan seukuran kamar yang terdapat dalam rumah minimalis. Kevin memeluk Egi begitu pula Egi memeluk Kevin dalam keadaan tanpa busana yang ditutupi selimut.
"Aku sayang sama kamu Kevin. Aku mau nikah sama kamu" kata Egi bergelayut dalam pelukan Kevin.
"Kamu adalah laki-laki yang aku cintai Egi."
" kamu juga Kevin. Kamu adalah laki-laki yang aku cintai. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu Kevin" kata Egi sambil mencium leher Kevin.
Diluar sana sosok bayangan hitam menyatukan partikel-partikel jiwanya. Dibalik jendela, dibalik bayang-bayang hordeng tembus pandang partikel bayangan hitam tersebut menyatuhkan jiwanya seperti setengah manusia. Jika mereka tau, Adume kembali hidup dibalik bayangan pemandangan yang tak lazim ini. Dia merentangkan jari-jari tangannya seperti kelopak bunga wisteria. Dibalik lengan bajunya, ada rantai-rantai besi yang keluar dengan sendirinya yang berjalan sesuai dengan perintahnya. Memanjang, dengan perkiraan 120 cm. Rantai-rantai itu mengejutkan dua sejoli yang tak lazim kembali dimabuk cinta kaget, rantai-rantai itu mencekik mereka berdua dengan kuat. Mereka tak bisa berbicara apa-apa. Mereka berdua melayang macam seseorang bermain layang-layang. Mereka tak bisa melihat siapa yang melakukan ini pada mereka. Leher mereka berdua semakin kuat diikat sehingga sisanya, rantai itu mengelilingi seperti ular dengan menggulung dibalik besi, kemudian mereka dihambung keatas, 'TANK!!!' Mereka menggantung macam orang bunuh diri. Dileher mereka berdua mengeluarkan darah.
----------------------------------------------------------
Sesampainya dirumah sakit dimana Adume pernah divisum 6 orang ini, turun dari mobil milik pak Malta. Mereka langsung mencari tim forensik yang pernah menangani kematian Adume. Novi menuntun mereka semua ke dokter yang menangani kasus ini. Ia kembali dipertemukan dengan dokter tampan yang pernah menangani kasus Adume. Dokter Fahri. Melihat kegantengan Dokter Fahri, Karmi mengagguminya. Jiwa fan girling nya menjerit. Tapi apa dikata, ini adalah rumah sakit. Jadi tahan. Novi menyapa dokter Fahri yang sedang lewat dengan sebuah masker.
"Dokter Fahri !" Panggil Novi.
"Novi." Kata Dokter Fahri tersenyum.
"Apa kabar dokter?" Tanya Novi.
"Baik"
Diam-diam, ada yang mulai tak suka dengan pemandangan ini. Yah, pak Malta. Dia mulai tertarik sama gadis berponi, berkulit putih mulus dan berambut panjang ini. Novi. Tapi, ia tahan karena dia harus tau hasil forensiknya bagaimana.
"Ada apa kamu datang kesini?" Tanya Fahri.
"Dokter masih ada data visum tentang kematian Adume?" Tanya Novi.
"Oh ada. Tunggu sebentar. Ajak semuanya termasuk..." Fahri melihat pria yang seumuran dengannya. Pria itu dari tadi menatap dengan wajah masam. Ada apa ini? Kenapa wajahnya tidak ramah sekali? Dokter Fahri mengajak mereka kesebuah ruangan, dimana ruangan tersebut merupakan ruangan hasil visum para korban. Ada yang masih hidup bahkan yang sudah meninggal dunia. Susunan dokumen yang tertata seperti perpustakaan didalam dunia sihir. Ketika sampai disana, dokter itu mengeluarkan sebuah benda yaitu flashdisk. Benda itu dia berikan kepada pria berwajah masam itu. Semua heran, mengapa benda tersebut diberikan Malta.
"Kenapa anda memberikan ini kepada saya?"
Fahri diam seribu bahasa. Suasana seketika hening namun sejenak. Fahri menarik nafasnya, dan ia mulai berbicara.
"Sebenarnya, kami sudah dilarang oleh pihak polisi untuk meneliti kasus kematian Adume yang menggemparkan seluruh kampus. Akan tetapi, pihak rumah sakit memutuskan tidak melakukannya tanpa perintah polisi. Kepala rumah sakit kami, merasa ini sungguh tidak adil. Terlebih lagi, ada satu pihak polisi yang ternyata sudah diberi 'uang belanja' oleh seseorang yang katanya ayah dari si tersangka. Saya sendiri, sangat emosi mendengar itu bersama dengan kepala rumah sakit. Untuk itu, jika ada orang baik yang ingin menuntaskan kematian Adume, berikan ini. Ini semua foto tentang hasil autopsi. Salah satu diantara foto yang paling miris dia sempat di sodomi menurut hasil visum yang kami lakukan"
Mendengar itu semuanya terkejut. Terutama Novi yang kemudian menatap kaku dokter Fahri. Ia seperti salah dengarkan. Sekujur tubuhnya gemetar. Karmi dan Bella berusaha menenangkan Novi. Dani, Seggaf dan Malta pun juga tidak percaya apa yang dia lakukan.
"Didisodomi?" Tanya Novi dengan lirih dan mulutnya bergetar.
"Itu dilakukan sebelum dia meninggal. Ada bekas luka dibagian anusnya. "
Mendengar itu Novi menangis. Bagaimana mungkin pacarnya diperlakukan tidak manusiawi oleh si tersangka? Hatinya sakit ketika dia mendengar sebuah kenyataan pahit, fakta Adume di sodomi secara paksa. Dani yang mendengar itu juga tidak menyangka kawan sekamarnya diperlakukan macam germo, yang disodomi dengan melakukan kekerasan.
"Bisakah anda memberitahukan siapa tersangka sebenarnya?" Tanya Dani.
"Kami bisa saja memberitahukan tersangka sebenarnya. Masalahnya, kami dari pihak rumah sakit tidak tau siapa tersangka utama. Ketika kami bertanya pihak polisi diam saja" kata Fahri menjelaskan fakta yang sebenarnya.
"Pacarku, tak pernah menyentuhku untuk menghancurkan aku. Bagaimana mungkin mereka bisa setega itu pada pacarku?" Kata Novi menangis dengan wajah datar.
"Kasus ini ditutupi oleh pihak polisi. Tapi kami, tak bisa mencegah kasus ini hilang begitu saja. Karena suatu saat, kalau bangkai sudah tercium maka kita akan kotar-katir. Sepandai-sepandainya kita menyimpan bangkai, pada akhirnya anjing pemburu akan menciumnya. Kami takut itu terjadi. Kalian lihat saja data ini lewat laptop kalian." kata Fahri.
"Apa isi data ini? Sehingga anda memberikannya kepada kami." Tanya Malta.
"Foto" kata Fahri.
Setelah mendapatkan bukti mereka kemudian keluar dari rumah sakit.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Diluar sana, Morgan, Murphy, Aslan, Janina, Karel, Farel, Danang, Rasti, sedang nongkrong dipinggir jalan. Biasanya jam segini tongkrongan mereka sangat lengkap. Sekarang kelompok itu tampak sendu dan tak sesemangat dulu dimana mereka semua masih bisa ketawa-ketawa. Semenjak mereka kehilangan 3 kawan mereka, Gani, Gea dan Kiran. Baru saja, mereka habis dari tempat rumah sakit dimana Gani baru saja di visum. Rasanya, baru tadi dia membahas tugas denga Gani. Kejadian aneh yang menimpa gank mereka menyebabkan mereka terserang psikisinya.
Sementara diluar sana, ia tidak tau bahwa dua orang temannya telah berubah menjadi mayat dengan posisi telanjang, dan menggantung seolah-olah mereka bunuh diri bersama-sama. Darah sudah menitik-nitik kebawah. Mata mereka melotot dengan lidah menjulur keluar. Kiran sudah mati setahun yang lalu. Sekarang Gani dan Gea.
"Gimana ni Mor? Kita udah kehilangan dua orang teman kita. Nggak, 3 orang" kata Murphy.
Morgan tak berbicara banyak. Dia memutuskan untuk pergi dari tongkrongannya menuju kesuatu tempat. Hari ini, adalah pembacaan doa atas kematian Gani. Keluarganya pasti sangat terpukul dengan kematiannya.
"Gue pengen tau, kenapa teman-teman kita pada menghilang?" Morgan heran ketika ia harus menghadapi kenyataan bahwasaannya, 3 orang dari mereka perlahan-lahan hilang secara misterius. Pertama Kiran, meninggal ditengah area pemakaman tepatnya di kuburan Adume oleh Dani. Kedua, Gea dan Gani tewas tenggelam dan mayatnya terdapat bekas tusukan sehinggal mengeluarkan urat-urat dan mulut mereka berdua membiru. Ketika ia teringat Dani dinyatakan bebas, Dani mengatakan dia hanya dipengaruhi oleh sesuatu. Dia melihat semua teman-teman seganknya perlahan-lahan berkurang. Morgan ingin mencari tahu mengapa teman-teman seganknya perlahan-lahan menghilang? Dengan rasa inisiatif, Morgan meninggalkan tempat dimana kawan-kawannya nongkrong.
"Mor..lu kemana?" Tanya Murphy.
"Gue mau pulang. Hari udah tengah malam besok kita ngampus" kata Morgan.
Mereka semua bubar dari tempat tongkrongan yang ada disekitar kampus dengan posisi memisah. Morgan mengambil motor ninjanya, menaikinya kemudian dia mengendarai motor ninja tersebut. Ia pulanh melewati jalan raya kemudian, pada saat lampu merah ia berhenti. Ketika ia berhenti, ia melihat sekitar sampai ia terpaku pada sebuah lukisan mural yang kalau digambar sangatlah seram. Gambar itu, tampak terlihat seperti Kevin dan Egi. Tapi gambar tersebut, namanya bukan Egi dan Kevin. Melainkan Eustace dan Leon. Morgan ingin melihat lukisan itu dari dekat. Namun, ia terhalang oleh lampu merah yang masih menyala. Ketika ia sedang menunggu lampu lalu lintas berubah, seorang anak berwajah pucat datang menghampirinya. Dia menjual komik dengan wajah seperti menangis. Anak itu, menjualnya pada Morgan. Morgan melihat dari sampul covernya sangat bagus dan berwarna. Bisa dikatakan, jika komik itu dijual berkisar 130.000 per-eksemplar. Karena Morgan sangat menyukai sampulnya. Ia membayar dengan harga mahal. Namun anak itu menolak.
"Kamu harus melihat itu mengapa semua orang disekitarmu mati." Kata anak itu Morgan semakin tidak mengerti apa yang terjadi. Anak itu membagikan sebuah komik berwarna dengan secara cuma-cuma. Kemudian, ia melanjutkan perjalanan menuju rumah. Hingga beberapa jam sampai dirumah, Morgan membuka pintu kamarnya. Dia membuka isi buku komik itu.
----------------------------------------------------------
Dilain tempat, setelah Seggaf, Karmi, Novi, Bella, Pak Malta, dan sudah mendapatkan bukti. Mereka pulang, sambil melihat isi flasdisk lewat laptopnya Dani. Dani, mengklik data yang sudah terbaca. Alangkah kagetnya Dani, sekujur tubuhnya Adume penuh dengan luka pukulan benda berat dan tajam. Dani scroll kebawah, foto apa saja selain itu hingga ia menemukan hal yang lebih parah dari luka-luka yang ada disekujur tubuh Adume? Dani menganga. Ia menyerahkan laptopnya kepada Seggaf.
"Kenapa lu kasih laptop lu ke gua?" Heran Seggaf.
"Kalian semua lihat sendiri deh"
Mereka melihatnya, sampai Novi yang duduk dibangku paling depan membalikan badannya. Malta juga penasaran. Ia mematikan mesin mobilnya, lalu ia mengambil laptop itu dan melihat apa yang terjadi. Akhirnya, Malta menaruh laptop itu ditengah-tengah supaya mereka semua bisa melihat. Ketika discroll, memang banyak luka penganiayaan yang kejam disekujur tubuh Adume. Ia scroll kebawah, sampai dibagian anus. Anus Adume berdarah penuh luka. Parahnya lagi, dibagian kemaluannya Adume, terdapat bekas gigitan seperti bekas habis diisap.
"Kejam kali ya Allah" kata Bella sedih.
"Siapa sih yang ngebunuh Adume kek begini?" Karmi mulai bersuara dan mengerutkan keningnya.
Semua tampak tidak sanggup dan mau menangis. Apalagi Novi dan juga Malta. Tapi tampang mereka berdua seperti memendam amarah yang berkecamuk.
Tak hanya mereka berdua. Dilain tempat, Morgan yang membaca komik dari seorang anak yang misterius, kaget mengapa teman-temannya harus mati secara mengenaskan. Ternyata, buku komik yang dibacanya mereka semua pernah membunuh salah satu mahasiwa bernama Adume Hasuwasa. Dan namanya tidak tertera sebagai tokoh dikomik itu.
Diposisi yang berbeda ditempat yang berbeda, mereka belum bisa menerima kenyataan. Sebuah komik yang digambarkan bagaimana kawan-kawannya mati dengan mengenaskan, mulai dari Kiran, Gani dan Ghea, dan pada halaman selanjutnya itu kosong tak berisi.


Komentar
Posting Komentar