THE FIVE BREAKWATER 13


600 tahun yang lalu:

"Puti,Puti!!!!!"
Dia menyeret seorang perempuan dari kalangan Bunian tanpa ampun.

"Lah den kecek-an  ka kau ndak, kalau sampai kau mode ko taruih, aden dabiah kau!!!( sudah ku bilang ke kamu bukan, kalau kamu sudah seperti ini aku akan membunuhmu)"

"Puti! Baa kau tu mada bana?!! Uda kau alah manyalamekan kau baulang kali, dek garo-garo kau mandakek jo manusia. Ndak buliah do Puti. Awak jo manusia tu ado bateh nyo (  kenapa kau itu sekali? Abang mu sudah menyelamatkan mu berulang kali gara-gara kamu mendekat dengan manusia. Kita dengan manusia ini ada batasnya). Itu cinta terlarang Puti"

Puti menampar orang yang sebenarnya itu adalah kakak kandungnya juga. Bahkan ia menarik kerah bajunya dengan kasar, seperti menyeret anjing lalu dilemparkan dengan jarak yang amat jauh.  Nama kakaknya itu adalah Sirama Basuang. Perlahan-lahan Sirama seperti kehilangan kesadarannya. Nafasnya tersengal-sengal dan pandangannya mulai kabur.

Sirama seperti sedang sekarat. Puti mendekat, sambil mengeluarkan pisau kecil yang diukir dengan gambar ayam. 

"Puti jan!(Puti jangan!)"

Tanpa berfikir panjang, ia membunuh Sirama pada hari itu juga. Kejadian itu terlihat olehnya. Monra yang pada saat itu sedang baru pulang mengikuti sebuah pesta, tangannya gemetar. 

"Sirama! Sirama!!!" Ujar Monra yang mulai kalang kabut. Adiknya berdarah-darah.

"Dia pantas mati bang" ujar Puti dengan begitu entengnya. 

"Kapalo apak kau dek kau!!!"

Terlontar kalimat kasar yang tidak pernah di dengar olehnya. Ini untuk pertama kalinya, abangnya yang sopan dan ramah bertutur kata tercela. Wajahnya membangih, sorot matanya yang menyeramkan bahwa dia seperti api yang bisa berkobar, karena serasa disiram oleh minyak atau dilemparkan kayu secara bertubi-tubi.

"Kakanda. Tidak pernah ku lihat kau seperti ini. Bagaimana bisa kau mencelaku dengan kalimat udik seperti itu?"

Dari telapak tangannya, dia mengeluarkan pisau yang mirip dengan gigi taring Macan. Mirip seperti pedang yang digunakan inyiak. Hanya saja pedang yang dimiliki oleh Monra memiliki motive yang pernah ia jumpai saat dia teleportasi ke dunia lain melalui cincin portal lingkaran yang amat bercahaya. Puti tampak ketakutan, saat abangnya hendak menodongkan senjata yang dia miliki. Ia berjalan seakan hendak memangsa adiknya sendiri. Puti mengigil ketakutan, hingga langkahnya mundur sendiri kebelakang, mendekati tepian bibir jurang Bukit Barisan di mana sinar surya terlihat lebih terang benderang di ufuk timur.

Ia menggertak adiknya dengan  seakan membawanya jatuh, agar sang adik bisa menyusul saudara-saudara yang dia habisi menuju akhirat. Sirama adalah adik kesayangan yang berpegang teguh pada aturan. Tapi dia harus pergi ditangan seorang adik, yang benar-benar kelakuannya serupa dengan beruk silaiang. Tapi ini jauh lebih parah. Benar-benar sosok setan yang sesungguhnya. Mereka adalah siluman monyet. Kalau orang melihat mereka, dalam tanda kutip manusia biasa, orang akan memandang mereka segerombolan iblis. Tapi mereka lebih senang dipanggil sebangsa jin, yang selalu ingat akan Tuhan Yang Maha Esa. Jadi hal itulah, Monra tak mau dipanggil iblis lantaran ia sendiri adalah makhluk yang taat ibadah.

Ia tahu membunuh itu  tidak boleh. Maka dari itulah, dia tidak jadi menjatuhkan adiknya. Jatuhpun adiknya ke jurang, mereka dapat terbang ke angkasa melewati sinar matahari, dan lengkungan seluncuran bianglala.

"Kau jatuhpun, kau bisa terbang. Maka dari itu aku harus cari cara lain untuk membunuhmu. Aku tahu, aku terkesan menjadi penghianat bagimu. Tapi aku sebagai seorang kakak, sudah tidak tahan melihat kau macam monyet betulan. Kita ini siluman Monyet aslinya, yang menjunjung tinggi nilai norma adat tempat kita tinggal. Dimana bumi dipijak, disitu pula langit di junjung. Kau selalu lupa akan itu dik. Mulai saat ini, kita bukan saudara. Mana ada sesama antara dunsanak keluarga kita saling membunuh?"

Mendengar itu, hatinya merasa hancur. Patah hatinya ketika abang satu-satunya mengatakan hal seperti itu didepannya. Ia merasa semua orang itu jahat. Padahal sebenarnya, Monra ingin memutuskan tali persaudaraan, dikarenakan supaya Puti berfikir akan kesalahan yang dia perbuat. Bukan seakan menang sendiri dengan seribu alasan yang dia buat. 

"Uda!! Uda!!!"

Melihat Monra yang bengong sendirian, Dama menyadarkannya. Tapi tetap saja, matanya tertuju pada pemandangan alam yang sebenarnya memukau, tapi menjadi sesuatu yang hampa baginya.

"Kenapa terdiam?"

"Aku berkhianat, lantaran adiku mencintai manusia untuk yang kedua kali"

Mendengar itu, Dama benar-benar terkejut setengah mati. Berarti ini bukan pertama kalinya ia Puti mencintai makhluk fana. 

"Kedua kali? Pertama kalinya dengan siapa?"

"Seseorang yang pernah hidup pada masa Adityawarman. Dia melarikan orang itu, disaat mereka sibuk latihan berkuda"

"Astaghfirullah" Ujar Dama tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Kau tidak bercanda?"

"Nggaklah. Kalau aku bercanda, mana mungkin aku ceritain ke kau. Pada saat itu, Puti sudah dilarang oleh kakak-kakaknya. Tapi dia tidak mau dengar. Malah membunuh saudara perempuannya, hingga yang terakhir ku lihat dia membunuh Sirama"

Mendengar nama Sirama, dia juga teringat kenangan yang amat menyedihkan saat ia sedang membeli wewangian bunga rampai. Saat itu dia menjalin cinta dengan Sirama. Hubungan mereka terkenal seseantaro penduduk bunian, hingga mereka dijuluki pasangan yang amat serasi. Hingga suatu hari, ia mendengar bahwa Sirama mati terbunuh oleh saudaranya sendiri, yang menyebabkan ia tidak bisa berkata-kata.

Setelah mendengar fakta yang ada, bahwa yang membunuh adalah Puti, hatinya semakin teriris. 

"Yang membunuh kekasihmu adalah Puti."

Kini sosok yang serupa adalah Mayang. Siluman kucing hitam, yang membunuh Cindai malam kemarin. Pertama kali dia bertemu sosok Mayang, pada masa penjajahan Belanda. Saat itu berada di Jambi. Kucing itu sedang mengigit senjata api yang ia dapatkan entah dari mana. Boom granat yang tertanam meledak hingga para penduduk terpaksa mengasingkan diri kehutan. Setelah itu, secara tak sadar, saat Dama hendak menembak tiba-tiba ia melihat sosok Sirama dengan memakai bando hitam yang hiasannya, mirip dengan telinga kucing. Wajah yang sangat ia rindukan selama ratusan tahun. Ia sangat ahli dalam menggenggap sniper

Dama langsung mendekatinya seakan mencoba berkenalan, tapi untuk sementara lewat bahasa tubuh. Saat ia hendak memperkenal diri, sesuatu yang datang menghampiri mereka. Ada yang menembakan basoka ke arah mereka berdua, sehingga Dama secara refleks melindungi Mayang kala itu. Sebagai balasannya, dari sinilah Mayang mulai mengabdi pada Dama sebagai orang kepercayaan, layaknya Sambadewa dengan Magek Jobang. 

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sekarang Mayang berada di Plaza Andalas membeli baju-baju dengan model terbaru. Kucing satu ini suka sekali dengan fashion. Jika dia mendapatkan bongkahan emas, dia langsung membeli semua perabotan yang ada. Bahkan baju dan makanan sekalipun.

Paling sering ia kunjungi adalah, rak makanan kucing. Karena ia aslinya adalah kucing, jadi dengan wujud manusianya dia membeli makanan itu sebagai makanan pokoknya.

Saat sibuk berbelanja, ia melihat ada sosok yang sangat ia kenal. Puti Salati datang layaknya manusia normal pada umumnya. Ini sangat mengaggetkan dan membuatnya tambah heran.

"Kenapa kamu bisa ada disini?"

"Seharusnya, kamu tanyakan kabar saya terlebih dahulu. Baru berkomentar"

"Hah ia, kamu benar juga"

"Berani-berani kau membunuh Cindai Malam pada waktu itu!" Ujar Puti Salati dengan amarah yang diliputi ego yang menjadi-jadi. Mendengar itu, Mayang tidak menggubris sama sekali. Ia malah sibuk membeli makanan untuk kebutuhannya sehari-hari. Melihat kelakuan Mayang, Puti tambah emosi. Ia merasa keberadaannya dihargai. 

"Kalau kau ingin bertengkar, jangan disini. Aku sedang berbelanja."

"Apa salahnya kalau bertengkar disini? Bukankah seru kalau dilihat orang ramai?"

"Apa maksudmu?"

"Aku paling benci dengan seseorang yang membunuh anak buahku. Salah satunya mungkin, kau adalah orang yang bisa ku kanyak."

"Yakin aku selemah itu?" Tanya Mayang dengan penuh tanda tanya. Dia mengingt bahwa Puti bukanlah Sibigau lagi. Melainkan hantu kepala terbang yang selalu haus akan darah anak bayi. 

"Apa maksudmu? Kau menganggap remeh aku?"

"Tidak ada salahnya. Kau lemah dari segala sisi, itu kenyataannya."

"Berani-beraninya kau berbicara begitu kepadaku, padahal kau berusia 400 tahun"

"Lalu kenapa? Selagi tampang mu bukan wujud wanita tua, kita itu seumuran."

Mayang mencoba untuk tenang menghadapi orang seperti ini.

"Ini pusat perbelanjaan. Bukan hutan belantara tempat kita tinggal"

Puti hendak mencekik Mayang. Namun, ia telah disodorkan bawang putih yang ia bawa kemanapun ia pergi. Terkopek dengan kuku yang dicat berwarna hitam. Melihat itu, Puti menjauh.

"Sekali lagi kau mencari keributan, aku akan memusnahkanmu didepan semua orang"

"Oke. Lain kali, aku akan bertarung denganmu" 

Kemudian Puti menghilang. Benar apa yang dikatakan oleh Sambadewa, bahwa dia begitu tidak bisa membedakan, mana yang baik dan juga jahat. 

"Aku seperti menghadapi anak kecil saja"

Ujarnya dengan gigi gemeletuk. Benar-benar menjijikan perempuan itu, bertindak semaunya tanpa ampun.

Pertama kali dia bertemu dengan Puti, pada saat dia pergi bersama dengan Dama. Puti yang saat itu sedang memakan buah jambu lilin, kala itu kagetnya bukan main. Bahkan dia melempar wajah Mayang dengan batu, bahkan berkali-berkali pula mengajaknya bertarung. Tetap saja kalah. Dia adalah sosok yang memiliki kekuatan yang setara dengan Sambadewa. Akan tetapi, Mayang walaupun tomboy seperti ini, dia punya sifat penyayang.

Dengan begitu anggun dia berjalan menuju kasir. Dia mengantri secara teratur. Lalu dia melihat, seorang wanita tua yang punggungnya sudah bungkuk mendorong keranjang belanjaan.

"Silahkan duluan nenek"

Wanita itu tampak begitu ramah. Dia menerima tawaran untuk terlebih dahulu maju kedepan. 

"Terimakasih" ujar wanita itu.

Dia menatap wajah wanita itu dengan senyuman. Sehingga membuat Mayang penasaran.

"Kenapa nenek menatapku begitu?"

"Teman yang kau temui tadi, dia akan melebur dengan perasaan cintanya itu."

"Maksudnya?"

"Dia akan melebur ditangan pasangannya sendiri. Kau tunggu saja" 

Si nenek sepertinya tahu dengan siapa dia berbicara.  Tiba gilirannya, wanita itu mulai dibantu oleh penjaga kasir untuk menghitung jumlah barangnya yang sangat banyak. Mayang melihat perempuan itu dengan penuh keheranan. Dia serahkan kepada kasir tersebut untuk dihitung. Karena ia merasa nenek ini tidak berdaya, dia lalu menyarankan kasir itu untuk menyerahkan keranjang itu lantaran ia tidak yakin kalau wanita tua itu bakal mengangkut semua belanjaan dengan kantong plastik.

"Apakah keranjangnya bisa dibeli?" Tanya Mayang. Kasir itu bingung buat apa dia membeli keranjang dorong.

"Buat apa anda membeli keranjang?"

"Saya mau beli satu."

"Tapi keranjang ini tidak dijual."

"Aku beli"

"Tapi keranjang ini tidak boleh dijual. Nanti kami akan dimarahi bos"

"Coba telvon bosmu. Belanjaan nenek ini sekalian aku bayar juga"

Mau tidak mau kasir ini harus menelvon bosnya. Ini dia lakukan agar sang nenek tidak kecapekan, dalam membawa kantong belanjaan. Wanita tua itu tersenyum melihat Mayang yang berusaha menolongnya. Si kasir mulai berbicara, bahwa ada yang mau membeli keranjang belanjaan. Kasir wanita itu menyerahkan ponselnya kepada Mayang. Dengan santainya ia menerima itu.

"Halo pak, saya mau beli keranjang belanjaan. Karena saya tidak sanggup melihat nenek saya bawa belanjaan begitu banyak, dengan kantong plastik. Berapa harus saya beli?"

"Sebenarnya kami tidak menjualnya bu. Karena itu stock untuk pengunjung. Akan tetapi mendengar cerita ibu, saya gratiskan saja. Nanti saya beli lagi dengan uang saya"

"Tidak bisa pak, saya harus membelinya. Berapa bapak tawarkan pada saya?"

"Gak apa-apa. Ambil saja"

"Saya beli 10 juta. Saya bayar"

"Tapi bu"

"Anggap saja negosiasi"

"Baiklah. Saya tawarkan 10 juta"

"Oke kalau begitu saya kirim lewat rekening. Anda mau?"

"Ibu kasih 1 juta saja ke saya. Sisanya bagikan kepada karyawan agak 300 rb-an ya bu"

"Oke fix. Saya akan bagikan sisanya. Terimakasih"

Setelah itu ponsel ia berikan kepada kasir perempuan. 

"Bos kamu suruh saya bagiin 9 juta. Cari 30 orang buat bagi-bagi. Kalau tidak kamu bagikan, maka kamu akan menjadi santapan saya" ujar dia dengan nada mengancam.

"Babbaik."

"300 ribu untuk kamu, dan 300 ribu lainnya untuk 29 orang teman kamu"

"Papanggil Lek"

"Baik"

Dia menyerahkan kartu kreditnya yang berwarna hitam, lalu barangnya kemudian di hitung semua. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Semua makhluk mulai memusuhi Puti Salati. Kecuali anak buah setianya. Siapapun yang membantah omongannya, dia akan menjadi santapan menggantikan ari-ari bayi yang ia santap dengan lahapnya.

Ia berencana berjalan menuju pulau Mande. Rencananya, ia akan menemui Magek Jobang dalam bernegosiasi di mana posisi Zainal saat ini. 

Dia membuat sebuah portal menuju jalan pintas, dimana Magek Jobang berada. Setelah dibuat, ia masuk ke dalam sana. Dan sampailah ia di pantai yang dikenal memiliki banyak terumbu karang itu. Pantai jernih dan hampir tidak berombak sama sekali.

Ia melihat Magek sedang berduaan menikmati makan siang, bersama dengan Sambadewa. Tak hanya itu, ia melihat dia mengundang bapak-bapak duduk bertiga dengan mereka sambil menikmati mie rebus yang diatasnya ada toping telur ceplok.

Dengan begitu sombongnya, dia datang menghampiri dua orang yang mungkin, terlibat kisah cinta yang mengharu biru. Bagaimana mungkin dia hanya mengajak Sambadewa saja? Pasti ada sesuatu.

"Aku saja dilarang berduaan dengan pasanganku. Bagaimana mungkin kalian menikmati hal seperti ini tanpa aku ketahui?!" Ujar Puti dengan nada meninggi.

"Mangalah kau ko? Sakik kau ko?( kenapa kau ni? Demam?)"

"Apo?( apa?)"

"Io tibo kamari ndak ado angin ndak ado hujan, lah mancari ribuik  ( pas datang kesini, tak ada angin dan hujan sudah mencari perkara)" ujar inyiak  dengan nada santai.

"Den akan bakirok katiko inyiak maagiah tahu dima Zainal tu kini ( Aku akan pergi, ketika Inyiak memberitahu dimana Zainal berada)" Ujar Puti dengan nada lantang.  Rupanya makhluk satu ini tidak kapok-kapok. Dia tetap berpendirian teguh pada cinta yang dia harapkan. Dengan tenang Magek kemudian berdiri. Biasanya kalau sudah kondisi seperti ini, Puti pasti akan takut. Namun ketika sudah terbiasa, dia tidak akan seperti itu lagi. Dia akan menghadapinya dengan berani.

"Akau alah acokkan kanai tampa di den?( kamu udah seringkan kena tampar olehku?)"

"Tampar lagi kalau bisa!" Ujar Puti dengan nada menantang.

"Mada baa paja ko dang ( Nakal sekali orang ini)!"

"Mentang-mentang anda lebih tinggi daripada kami, seenaknya saja berbuat dengan alasan ingin berbakti pada Sang Pencipta. Bukankah cinta adalah hak setiap manusia? Bukankah cinta adalah boleh dirasakan oleh semua makhluk? Bahkan seperti kitapun? Hey ..., aku yakin anda telah mengajak dia berpacaran atau memadu kasih dengan menikmati dunia asmaraloka yang begitu indahnya. Sehingga anda mengajak Sambadewa mungkin, nafsu syahwat tanpa disadari telah merasuk relung jiwa anda. Tapi kenapa saya tidak boleh memiliki cinta yang saya inginkan?"

"Masalahnya kau mencintai manusia!"

"Bukankah cinta itu tidak ada batasan yang menghalangi? Lalu kenapa anda pisahkan dia dengan saya?"

"Kau berbeda dengan dia, dia di ciptakan dari tanah, dan kau dari api. Dari penciptaan saja kalian sudah berbeda."

"Bukankah itu bukan sesuatu hal yang dapat menghalangi cinta diantara keduanya? Aku yakin, anda begitu mencintai Sambadewa. Tidak pernah saya melihat membawa siapapun kesini. Maksud saya dari kalangan perempuan. Sambadewa adalah seorang perempuan. Bagaimana bisa anda boleh menikmati cinta sementara saya tidak?" Ujar Puti yang mulai menangis, bahwa dia benar-benar mencintai Zainal bukan karena nafsu semata.

"Itu bukan cinta Puti. Kau hanya menginginkan dia karena nafsumu semata"

"Lalu kenapa saya tidak boleh inyiak?"

Magek harus menjawabnya secerdas mungkin agar Puti diam, tidak membahas tentang Zainal. Dia menghela nafasnya dengan memicingkan mata sejenak, lalu dia harus pintar memilah kata.

"Puti. Ada sesuatu hal yang terlarang, dimana bukan saya yang menggariskannya. Saya, kamu dan mereka sama-sama punya kewajiban, yaitu patuh. Mungkin ini bukan jawaban yang kamu inginkan. Ada beberapa cinta yang tidak dibolehkan, dan itu ada sebabnya. Manusia itu takut dengan api. Terlebih-lebih, kamu bisa saja menghilang karena sesuatu, itu bisa membuat dia gila. Terlebih lagi Zainal bakal mencapai masa Tua. Zainal, pria yang kamu kenal sangat mencintai Tuhan semesta Alam. Dia begitu setia sehingga, saya saja iri melihatnya yang notabenenya juga hamba Tuhan."

"Tunggu, masa tua? Bukankah itu wajar. Saya mau menjadi wanita renta pula"

"Tidak! Bukan begitu maksud saya. Makhluk seperti kita sudah terbiasa melihat sesuatu yang awet. Terlebih lagi, jika Zainal ingin memperkenalkan kamu pada kawan-kawannya, bagaimana jika sebagian dari teman-temannya tidak bisa melihat kamu? Orang-orang bakal mengira kalau Zainal Skizofrenia."

Puti tidak terima dengan alasan ini. Bagaimanapun, dia ingin bersama Zainal. Ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Hatinya tidak pernah berubah. Cinta terlalu dalam itu, juga terasa di hati raja hutan itu.

"Saya akan mencari Zainal. Saya ingin memilikinya. Saya ingin bersama dia"

"Kamu tidak akan pernah bisa bersama dia"

"SAYA AKAN TETAP BERSAMA DIA!!! SAYA AKAN CARI DI MANA DIA BERADA!!""

Magek sudah tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Dia sudah kehabisan kata-kata. 

"Dan satu lagi, mau saya menyukai Sambadewa atau tidak, selagi dia satu species dengan dia, saya mungkin bisa bersamanya selayaknya manusia mencintai manusia pula tapi dari bangsa lain. Jangan ganggu saya lagi"

"Tapi inyiak, saya ingin tahu dimana keberadaan Zainal."

"Saya tidak bisa memberitahu dimana Zainal berada. Lupakanlah Zainal"

Hatinya menjadi hancur. Bukan ceramah yang dia inginkan. Melainkan jawaban, dimana Zainal berada. Dia merasa sudah bertanya pada tempat yang salah. Magek lalu kembali bergabung dengan Sambadewa. Sementara Puti menghilang begitu saja.

Sambadewa yang menyaksikan sebenarnya juga kasihan, apalagi Magek yang tidak bisa menentang apa yang telah ditakdirkan kepada mereka.

Waktu demi waktu berlalu. Senja di ufuk timur bergerak menuju barat untuk menenggelamkan diri. Sinar senja perlahan mulai menghampiri. Burung-burung yang berada di laut mulai kembali kesangkarnya. 

Orang-orang yang berternak memasukan binatang yang mereka pelihara, masuk ke dalam kandang. Suara azan mulai menggema pertanda waktu solat sudah tiba.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Seorang pria tampan, dengan kharisma yang menawan, datang menghampiri masjid dengan berjalan kaki. Ia percaya, dengan hal itu dia akan mendapatkan rahmat dari Tuhan. Pria itu menyita pandangan dari kalangan perempuan, yang mengenakan telekung dengan berbagai macam warna. Bahkan saking terpesonanya, keindahan yang mereka lihat membuat mereka hampir masuk dalam banda.

Dia memiliki kulit yang bercahaya. Sehingga orang-orang menyebutnya jelmaan pangeran turun langit. Indahnya, hingga membuat perempuan tertegun, bahkan mungkin kalau mereka memandang pria satu ini, pria ini akan tersayat tangannya.

Pria-pria yang memakai peci dan baju koko, berjalan disamping kiri-kanannya. Macam pengawal, tapi mereka tak mau disebut seperti itu lantaran, dengan jalan beriringan mereka berharap pria ini mau berbaik hati membagikan secercah keringat agar ketampanannya menular.

"Mangalo urang-urang ko tagak disampiang bang Zainal? Mausak pemandangan je. (Kenapa pula orang-orang ini berdiri disamping bang Zainal? Merusak pemandangan saja)" ujar salah satu perempuan, dengan memakai logat Minang khas Pariaman.

"Eehh bantuak rancak na kau nampak diden"


Komentar

Postingan Populer