Alasan gue suka Taylor Swift
Ada beberapa penyanyi yang gue suka. Pertama adalah Celindion, Sania Twain, Mandy Moore, Christina Aquileira. Lagu-lagu mereka bagus-bagus, tapi aku suka salah satu penyanyi yang aku kenal dilagu i know you were trouble.
Awalnya aku hanya mengikuti lagu ini karena Fomo di era, 2013 sampai 2014. Namun, setelah aku ikutin lagi beberapa lagunya, yaitu NEVER GETTING BACK TOGETHER, aku merasa sedikit mengerti dengan lagu-lagunya. Aku merasa ikut terbawa emosi, saat mendengar lagu itu, karena kalau mantan, ngapain dianggap ada.
Selain lagu-lagunya yang berhasil bikin gue emosi, juga berhasil bikin gue nangis. Salah satunya adalah back to december. Sebagai bentuk penyesalan Taylor pada Lautner. Terlebih lagi dilagu itu, ada penggalan kalimat ..., i miss your tan skin, your sweet smile. Itu bikin gue tambah nyesek. Banyak orang menganggap lagu-lagunya Taylor, apalah. Bahkan gue pernah baca artikel, kalau Taylor itu punya suara yang rendah. Itu lihat pada saat orang Korea menganggap seperti itu dalam beritanya. Entah itu benar, atau salah. Yang jelas meskipun orang bilang demikian, suara dia ini artikulasi dan improvisasinya susah untuk ditiru, dan dinyanyikan.
Back to december, adalah gambaran yang sama terhadap apa yang aku alami. Aku sama menyesalnya, sesuai dengan lagu itu. Bahkan mencari penggantinya serasa sulit. Aku ingin melepaskan, tapi aku ingin orang seperti dia hadir dalam wujud pria yang beda. Sifat sama, namun aku orang seperti dia ada lagi.
Orang-orang disekitarku, menggosipkan aku dengan pria lain. Tak apa. Mereka hanya bercanda. Seseorang yang digosipkan itu, wajahnya lebih tampan dari orang yang aku kira. Tak apa. Aku santainya.
Back To december, adalah perwakilan hatiku yang Gegana (Gelisah Galau Merana). Sesungguhnya aku ingin orang sepertinya, hadir lagi. Dalam wujud yang berbeda, sifat sama, serasa memiliki rumah nomor dua, tapi nyatanya aku tak menemukan titik temu. Dia mundur aku kehilangan. Berita yang paling menyedihkan adalah, mendengar dia akan menikah dengan orang lain.
Aku seperti Nurul yang kehilangan Fahri. Tapi ini menyedihkan. Impianku, kala itu adalah menikah dengan dia. Bila aku mendapatkannya, aku tak akan jatuh cinta pada pria lain. Berjuta kali aku menemukan pria tampan, dan dia biasa saja, kebaikan dan ketulusan itulah yang membuatku ingin bersamanya.
Namun ....,
Dia tidak ditakdirkan untukku. Basah kalau aku memutar lagu itu, dan mengenangnya. Sama seperti lagu itu, jika aku dapat mencintai dan mendapatkannya, dia akan menjadi sesuatu yang tulus aku pertahankan." Semunya hanya sirna. Kadang kalau gue ingat doi, ada sedikit penyesalan seperti "kenapa bukan gue yang bersanding dengan dia?"
Jika Taylor Swift, menyesal melepaskan Taylor Lautner, maka gue juga sulit sampai detik ini melupakan Em Nur. Bahkan diantara pria yang gue temui, gak ada yang sama persis sifatnya dengan dia. Penyesalan gue, adalah tidak bisa berusaha mendapatkan yang terbaik, apa yang gue mau. Namun dibalik semua itu, gue yakin ada seseorang yang lebih baik dari dia.
Lagu-lagunya Taylor, beda dengan lagu penyanyi lain. Merasuk ke jiwa, sampai apa yang dia rasakan, seperti apa yang gue rasakan. Bahkan ada lagunya yang judulnya Safe And Sound, yang membuat gue merasa, gue harus melindungi apa yang sepatutnya gue lindungi. Haunted, yang membuat gue juga ikut nangis.
Banyak lagu barat saat ini, menggambarkan perasaan cinta itu, pada sebuah nafsu sesaat. Bahkan videoclipnya, bukan main vulgarnya. Kadang gue mikir, ini video porno atau videoclip music? Itulah kenapa gue suka sama Taylor. Dia berhasil menyentuh perasaan orang-orang, lewat lagunya itu.
Salah satunya adalah Back To December. Setiap gue dengar lagu itu, air mata gue jatuh. Bahkan apa yang dirasakan dalam lagu itu, gue merasakan hal yang sama. Sama-sama kehilangan orang yang terbaik, dan selalu ada buat kita. Dan ini yang membuat gue meratapi cinta yang belum kelar, namun gue tak akan menyerah untuk melupakan seseorang yang gue sebut, secara utuh. Kalau perasaan ini dibiarkan, gue kesulitan juga mencari cinta yang baru.
Meskipun gue suka Taylor. Gue lebih tepatnya menyukai music, dengan secara netral.


Komentar
Posting Komentar